Seru Sih Ini! Aku Menatap Langit Terbakar, Tapi Hanya Mencari Siluetmu

## Aku Menatap Langit Terbakar, Tapi Hanya Mencari Siluetmu Langit senja membara. Warna jingga, merah, dan ungu berpadu, membentuk lukisan ***APOKALIPTIK*** di atas kota Shanghai yang modern. Tapi mataku, setajam elang, hanya terpaku pada satu titik: balkon pencakar langit di kejauhan. Di sana, siluet seorang pria berdiri, diterangi cahaya senja. Siluet itu... terasa familiar, *menusuk* hingga ke tulang sumsumku. Namaku Mei. Aku bekerja sebagai penerjemah di sebuah galeri seni. Kehidupanku biasa saja, cenderung membosankan, sampai beberapa minggu lalu. Mimpi-mimpi aneh mulai menghantuiku. Benteng-benteng kuno, pedang berlumuran darah, dan seorang wanita berpakaian sutra merah – *aku* – berteriak pada seorang pria yang wajahnya selalu kabur. Setiap mimpi terasa lebih nyata, lebih **MENCEKAM**. Aku mulai merasakan sakit kepala yang luar biasa setiap kali melihat bunga sakura atau mendengar alunan Guzheng. Lalu, aku bertemu dengannya. Xiao Chen, seorang kolektor seni kaya raya. Dia tampan, karismatik, dan... *dia* adalah siluet di balkon itu. Saat matanya bertemu mataku di acara pembukaan galeri, dunia terasa berhenti berputar. **DÉJÀ VU** menghantamku seperti ombak tsunami. Aku tahu. Jauh di lubuk hatiku, aku *tahu*. Mimpi-mimpi itu bukan sekadar mimpi. Itu adalah *ingatan*. Kehidupan sebelumnya. Aku adalah Li Mei, putri seorang jenderal yang berkuasa di Dinasti Ming. Xiao Chen... dulu adalah *Cui Lin*, panglima perang kepercayaanku, sahabatku, kekasihku. Dan dialah yang *mengkhianatiku*. Cui Lin bersekongkol dengan musuh, membantai keluargaku, dan merebut tahtaku. Aku mati mengenaskan di tangannya, di bawah langit yang juga membara, sama seperti senja ini. Dendam? Ya, aku merasakannya. Tapi amarahku anehnya bercampur dengan kesedihan yang mendalam. Aku masih mencintainya, *atau setidaknya, aku mencintai Cui Lin*. Xiao Chen hanyalah wadah baru bagi jiwa yang dulu menyakitiku. Aku mendekatinya. Pelan-pelan, kuungkap kebenaran tentang masa lalu, tentang pengkhianatan yang menyakitkan itu. Awalnya, dia menyangkal. Tapi semakin dalam aku menyelam ke dalam ingatan-ingatanku, semakin dia merasakan getaran masa lalu. Ekspresi bingung, ketakutan, dan akhirnya… *penyesalan* mulai terpancar di wajahnya. Xiao Chen kini tahu segalanya. Dia tahu siapa dia dulu, dan apa yang telah dia lakukan. Dia menundukkan kepalanya, menerima takdirnya. Balas dendamku tidak akan berupa kematian. Tidak akan ada darah yang tumpah. Balas dendamku adalah *keputusanku*. Aku, Mei, putri Li Mei yang bereinkarnasi, memutuskan untuk *tidak* mencintainya. Aku akan membiarkannya hidup dengan beban masa lalunya, dengan penyesalan abadi atas apa yang telah dia lakukan. Aku akan membangun hidupku sendiri, jauh darinya, *bebas* dari belenggu masa lalu. Aku berbalik dan berjalan menjauh, meninggalkan Xiao Chen terpaku di balkonnya, di bawah langit yang terbakar. "Mungkin di kehidupan yang lain, *mungkin*."
You Might Also Like: 133 Rahasia Paket Skincare Lokal Harga

Post a Comment