Drama Populer: Aku Mati Berkali-kali Untuk Cinta Ini, Tapi Cinta Ini Tak Pernah Mati

Baiklah, ini dia kisah pendek bergaya dracin yang kamu minta: **Aku Mati Berkali-kali untuk Cinta Ini, Tapi Cinta Ini Tak Pernah Mati** Lampu-lampu kota Shanghai gemerlapan, memantul di gaun sutra merahku. Aku menyesap anggur, pura-pura menikmati pesta. Di antara riuhnya tawa dan bisikan manja, mataku mencari satu sosok. Dia. Li Wei. Senyumnya, **_senyum yang menipu_**, terpatri kuat dalam ingatanku. Dulu, senyum itu adalah matahariku. Sekarang, hanya serpihan kaca yang melukai. Aku mengingat malam-malam panjang bersamanya. Janji-janji yang diucapkannya, kata demi kata, kini berubah menjadi **BELATI** yang menusuk jantungku. "Aku akan selalu mencintaimu, Mei Lan," bisiknya dulu. Sekarang, bisikan itu bergema bersama suara tawanya dengan wanita lain, seorang sosialita muda yang menggantung manja di lengannya. Aku mati berkali-kali di malam itu. Setiap melihat mereka berdua, sepotong hatiku hancur. Tapi, di depan mereka, aku tetaplah Mei Lan. Anggun. Tenang. Elegan. Aku menyembunyikan luka di balik senyum sinis yang hanya aku sendiri yang tahu artinya. **Pelukannya... DULU adalah rumahku. SEKARANG? Racun yang mematikan.** Bertahun-tahun aku mencintainya. Memberikan segalanya. Bahkan *diriku* sendiri. Tapi, dia memilih kemewahan, status, dan ambisi. Dia memilih jalan yang bukan diriku. Aku membiarkannya. Aku pura-pura menerima. Aku bahkan mengucapkan selamat padanya atas pertunangannya dengan wanita itu. Tapi, di balik semua itu, dendam mulai tumbuh. Bukan dendam berdarah. Bukan dendam yang membabi buta. Dendamku lebih *halus*. Lebih *mematikan*. Aku menggunakan koneksiku. Kekuatanku. Warisan keluargaku. Perlahan, tapi pasti, aku mulai menjatuhkan bisnisnya. Satu per satu, perusahaannya bangkrut. Reputasinya hancur. Impiannya musnah. Aku melihatnya lagi, beberapa tahun kemudian. Wajahnya tirus, matanya redup. Dia kehilangan segalanya. Wanita itu meninggalkannya. Kekayaannya hilang. Tinggal penyesalan. Dia menatapku. Ada sesuatu di matanya. Bukan cinta. Bukan benci. Hanya **kekosongan**. "Mei Lan..." bisiknya, nyaris tak terdengar. Aku tersenyum. Bukan senyum matahari yang dulu pernah ia kenal. Tapi senyum dingin, senyum kemenangan, senyum seorang wanita yang telah bangkit dari kematian. "Li Wei," jawabku. "Selamat menikmati hidupmu." Aku berbalik dan pergi, meninggalkan dia dalam kehancurannya. **BALAS DENDAM ini terasa manis, tapi juga pahit.** Aku menang. Tapi kemenangan ini terasa hampa. Aku mendapatkan apa yang aku inginkan. Tapi kehilangan sesuatu yang tak mungkin kembali. Cinta dan dendam... **lahir dari tempat yang sama.**
You Might Also Like: Rekomendasi Pembersih Wajah Centella

Post a Comment