Cerpen: Aku Menggenggam Pedang Warisanmu, Tapi Bilahnya Menyebut Namamu

Tentu, ini dia kisah dracin intens yang kamu minta: **Aku Menggenggam Pedang Warisanmu, Tapi Bilahnya Menyebut Namamu** Malam itu *abadi*, seberat ribuan tahun duka yang ditumpahkan ke bumi. Salju turun tanpa henti, memutihkan segalanya, kecuali noda darah yang tercetak di atasnya, bagai bunga mawar merah mengerikan yang mekar di taman kematian. Di tengah kuil kuno yang remuk, aroma dupa pahit berpadu dengan bau anyir besi, membentuk pusaran aroma yang menyesakkan dada. Dia berdiri di sana, *Lin Mei*, punggungnya tegak meski bahunya bergetar. Di tangannya, tergenggam erat *Bai Hong*, pedang warisan keluarganya. Pedang yang dulu menjadi kebanggaan, kini terasa seperti bara api yang membakar telapak tangannya. Di hadapannya, terbaring *Zhao Feng*, pria yang dulu dicintainya lebih dari nyawanya sendiri. Sekarang, dadanya berlumuran darah, matanya terpejam rapat, seolah tengah tertidur lelap. Tapi Lin Mei tahu, tidurnya abadi. "Mengapa?" bisik Lin Mei, suaranya serak dan hancur. Air matanya membeku di pipi, bagai kristal es yang menusuk hatinya. "Mengapa kau mengkhianati kami? Mengapa kau membunuh ayahku?" Keheningan menjawab pertanyaannya. Hanya suara angin yang menderu di antara pilar-pilar kuil yang runtuh. Di antara asap dupa yang mengepul, bayangan masa lalu menari-nari, memperlihatkan janji-janji manis, tawa riang di bawah rembulan, dan ciuman pertama yang terasa seperti keabadian. *Kebencian*, racun mematikan, telah merayap dalam hatinya selama bertahun-tahun. Rahasia yang disembunyikan Zhao Feng akhirnya terbongkar. Ia adalah dalang di balik kematian ayahnya, pengkhianat yang bersembunyi di balik senyum manis dan kata-kata cinta. "Kau berjanji," Lin Mei terisak, memegangi pedang Bai Hong erat-erat. "Kau berjanji akan melindungiku. Kau berjanji akan setia pada keluargaku." Kenangan itu bagai pecahan kaca yang menusuk jiwanya. Ia mengingat malam itu, malam ketika ayahnya dibunuh, malam ketika ia menemukan Zhao Feng berdiri di dekat mayat ayahnya, pedangnya berlumuran darah. Zhao Feng bersumpah bahwa ia tidak bersalah, bahwa ia akan membuktikan dirinya. Lin Mei *percaya*, dengan segenap hatinya. Tapi kebenaran selalu menemukan jalannya untuk terungkap. Surat-surat rahasia, saksi mata yang berani, dan pengakuan terakhir dari seorang pengkhianat yang sekarat, semuanya menunjuk pada Zhao Feng. Lin Mei menatap wajah Zhao Feng yang damai. Ia mengingat saat-saat bahagia mereka, sentuhan lembutnya, bisikan cintanya. *Cinta dan kebencian* berkelindan dalam hatinya, menciptakan badai yang tak terkendali. Ia mengangkat Bai Hong tinggi-tinggi. Cahaya bulan memantul dari bilahnya yang tajam, memperlihatkan ukiran nama Zhao Feng di sana. *Nama itu*, nama yang seharusnya menjadi simbol cinta, kini terasa seperti kutukan. "Kau mengambil segalanya dariku," bisik Lin Mei, suaranya dingin dan mematikan. "Sekarang, aku akan mengambil segalanya darimu." Dengan gerakan cepat dan tanpa ragu, ia mengayunkan Bai Hong. Pedang itu membelah udara, memisahkan kepala Zhao Feng dari tubuhnya. Darah menyembur ke salju, mewarnai putihnya dunia dengan warna merah tua yang mengerikan. Lin Mei berdiri di sana, di tengah badai salju dan lautan darah, menatap mayat Zhao Feng dengan tatapan kosong. Balas dendamnya telah selesai. Tapi hatinya terasa kosong, seolah ikut mati bersama Zhao Feng. Ia berbalik, meninggalkan kuil kuno dan kematian di belakangnya. Ia tahu, *tidak ada kedamaian* baginya. Ia telah menodai tangannya dengan darah, dan bayangan masa lalu akan terus menghantuinya. Saat ia berjalan menjauh, angin berbisik di telinganya, membawa serta suara pedang Bai Hong yang bergetar. Suara itu, suara yang akan terus mengikutinya hingga akhir hayatnya. Suara yang berbisik, "Ini belum berakhir."
You Might Also Like: 10 Birds Of Prey In Uk With Pictures 10

OlderNewest

Post a Comment