Di lembah Rembulan, tempat bunga-bunga Giok menari ditiup angin musim gugur yang perih, hiduplah seorang pendekar bernama Lian. Tangannya lincah bagai elang menyambar mangsa, pedangnya berkilauan seperti air mata naga, dan hatinya... sepi.
Lian berjuang tanpa henti, bukan untuk kekuasaan atau kejayaan, melainkan untuk membuktikan diri. Ia ingin layak, layak untuk sebuah nama yang terukir dalam jiwanya, nama seorang wanita yang hanya hadir dalam mimpi: Mei Hua.
Mei Hua, keindahan yang memabukkan bagai anggur terlarang, bayangannya hadir dalam setiap hembusan napas Lian. Ia melihat Mei Hua di setiap kelopak bunga Giok, mendengar suaranya dalam gemericik sungai di lembah itu. Namun, wujudnya selalu menghilang saat Lian mencoba meraihnya.
Suatu senja, di tengah riuhnya medan perang, pedang beradu, darah muncrat bagai percikan tinta di atas kanvas kehidupan, Lian terdesak. Musuhnya, Jenderal Hei Long, sosok bengis dengan mata sedalam jurang, tertawa pongah. Kematian mengintai, dingin dan tak terhindarkan.
Saat pedang Hei Long menebas, Lian mendengar sebuah suara. Bukan suara pedang beradu, bukan teriakan kesakitan, melainkan sebuah bisikan lembut, merdu bagai alunan kecapi surgawi.
"Lian..."
Di tengah kekacauan itu, di antara desingan anak panah dan gemuruh derap kuda, namanya disebut. Bukan dengan nada memohon, bukan pula ketakutan, melainkan dengan kehangatan yang menghancurkan pertahanannya.
Saat itulah, ia melihatnya. Di antara kabut senja, sosok Mei Hua berdiri, bercahaya bagai rembulan di tengah kegelapan. Senyumnya menenangkan, matanya memancarkan cinta yang tak terucap.
Lian terpaku. Pedangnya terlepas. Hei Long memanfaatkan kesempatan itu. Pedangnya menembus dada Lian.
Sebelum kegelapan menelan segalanya, Lian mendengar lagi bisikan itu, "Maafkan aku..."
Lian jatuh. Mati. Tanpa menang.
Keesokan harinya, Jenderal Hei Long ditemukan tewas di tendanya. Sebuah lukisan bunga Giok tertancap di dadanya, lukisan yang persis sama dengan yang selalu dibawa Lian. Di lukisan itu, tertulis sebuah nama: Mei Hua.
Dan di balik lukisan itu, terukir sebuah pengakuan: Mei Hua adalah putri Hei Long, yang mencintai Lian dalam diam. Ia sengaja memanggil nama Lian di medan perang, mengorbankan diri agar Lian mati dalam damai, tahu bahwa cintanya nyata, meskipun terlarang. Lukisan itu, satu-satunya cara Mei Hua bisa mengungkapkan cintanya, sebab ia telah bersumpah setia pada ayahnya. Ia mati bunuh diri setelah memastikan Lian telah pergi.
Kini, misteri terpecahkan. Cinta terungkap. Namun, keindahan kisah ini justru menambah perih luka di hati.
Angin masih membawa bisikan namanya, di antara bunga Giok yang terus bermekaran...
You Might Also Like: Jual Skincare Lokal Berkualitas
Post a Comment