Baik, ini adalah kisah dracin yang saya rancang, dengan judul "Aku Menjadi Istrinya Dalam Perintah, Tapi Kekasihnya Dalam Dosa": **Aku Menjadi Istrinya Dalam Perintah, Tapi Kekasihnya Dalam Dosa** Hujan selalu menjadi saksi bisu. Kali ini, ia menari di atas nisan marmer, membasahi ukiran nama **Li Wei**. Nama yang dulu berdenyut hangat di bibirku, kini dingin membatu. Dulu, ia adalah mentari. Kini, ia hanya kenangan yang bergentayangan. Aku, Lin Mei, menjadi istrinya dalam perintah keluarga. Sebuah perjodohan klasik, tanpa cinta, tanpa kehendak. Namun, di balik dinding batu istana Li, di bawah rembulan yang mengintip malu-malu, *cinta* tumbuh tanpa permisi. Cinta yang haram. Cinta yang berdosa. Li Wei memiliki kekasih. Seorang wanita dengan senyum secerah pagi, dengan hati seluas samudra. Aku tahu. Aku melihatnya. Aku *merasakannya*. Sakitnya, sungguh mengiris kalbu. Dia meninggal. Kecelakaan tragis. Atau begitulah yang mereka katakan. Aku mati sebelum kematianku yang sebenarnya. Sekarang, aku kembali. Bukan sebagai Lin Mei yang lemah dan penurut, tetapi sebagai roh yang haus akan kebenaran. Bayangan yang menolak pergi, seperti dendam yang mengakar. Aku menyusup ke dalam kehidupan mereka, mengusik tidur nyenyak para pendosa. Istana Li kini dipenuhi bayanganku. Lilin padam tanpa sebab. Angin berbisikkan namaku di setiap sudut ruangan. Aku melihat wajah-wajah yang dulu kupuja, kini berkerut dalam ketakutan. Mereka menyembunyikan sesuatu. Aku tahu itu. Suatu malam, aku melihatnya. Zhang Yi, sahabat Li Wei, berlutut di depan nisan kekasihnya. Air matanya jatuh membasahi tanah. Ia menggumamkan sebuah nama, bukan nama Li Wei, tetapi nama *lain*. Nama yang asing. Nama yang terlarang. Aku menggali lebih dalam. Rahasia demi rahasia terkuak. Kecelakaan itu bukanlah kecelakaan. Itu pembunuhan. Dan dalangnya… adalah *Zhang Yi sendiri*. Ia mencintai kekasih Li Wei. Obsesi yang membutakan. Cinta yang membawa maut. Dendamku bergejolak. Aku ingin membalas. Aku ingin ia merasakan sakit yang sama. Tapi, semakin aku mendekat, semakin aku menyadari, bukan balas dendam yang aku cari. Aku mencari kedamaian. Kedamaian untuk Li Wei. Kedamaian untuk kekasihnya. Kedamaian untuk diriku sendiri. Aku menghampiri Zhang Yi. Bukan sebagai roh yang menakutkan, tetapi sebagai Lin Mei yang memaafkan. Aku membisikkan kata-kata maaf di telinganya, membebaskannya dari belenggu dosa. Ia menyerahkan diri kepada hukum. Hujan berhenti. Matahari menyingsing. Bayanganku memudar. Apa yang sebenarnya kuinginkan? Bukan pembalasan, tetapi pemahaman. Bukan kebencian, tetapi kasih sayang. Bukan keabadian, tetapi kelepasan. … mungkin, akhirnya aku bisa tersenyum.
You Might Also Like: Jual Skincare Yang Cocok Untuk Semua
Post a Comment