**Cinta yang Membusuk Dalam Ingatan** Hujan abu mengguyur kota Yan, serupa debu kenangan yang tak pernah benar-benar hilang. Mei Lan dan Zhuo Yi, dua nama yang dulu terukir di setiap sudut istana, kini hanya gema yang menyakitkan. Mereka tumbuh bersama, bukan saudara kandung, namun terikat lebih erat dari darah. Mei Lan, si bunga plum yang anggun, dan Zhuo Yi, si naga yang gagah perkasa. Persahabatan mereka, atau setidaknya begitulah yang dipercaya semua orang, menjadi pondasi kekaisaran. "Zhuo Yi, ingatkah kau janji kita di bawah pohon *feng huang*?" suara Mei Lan selembut sutra, namun matanya menyimpan badai yang mengamuk. "Tentu, Mei Lan. Janji tentang kekekalan," jawab Zhuo Yi, senyumnya setipis es yang mudah pecah. "Namun kekekalan ternyata memiliki harga yang jauh lebih mahal dari yang kita kira." Mereka adalah sekutu, tangan kanan dan tangan kiri Kaisar. Namun di balik senyum dan kata-kata manis, tersembunyi sebuah rahasia yang membusuk, seperti bangkai burung yang tertutup kelopak bunga. *Rahasianya adalah pembantaian keluarga Mei Lan.* Zhuo Yi, si naga gagah, ternyata adalah eksekutor utama perintah kaisar. Alasan? Keluarga Mei Lan dituduh berkhianat, merencanakan pemberontakan. Mei Lan kecil menyaksikan semuanya, tersembunyi di balik tumpukan mayat. Ia selamat, hanya karena Zhuo Yi menutupinya, melindunginya dengan selubung dusta. "Kenapa, Zhuo Yi? Kenapa kau melakukannya?" Mei Lan bertanya, suaranya bergetar menahan amarah. "Demi kau, Mei Lan. Demi melindungimu," jawab Zhuo Yi, tangannya gemetar menggenggam pedang. "Kaisar akan membunuhmu jika ia tahu kau selamat. Aku terpaksa." *Terpaksa?* Kata itu menusuk Mei Lan lebih dalam dari pedang. Tahun-tahun berlalu, Mei Lan memendam dendamnya dalam diam. Ia menjadi semakin dekat dengan Zhuo Yi, belajar strateginya, memahami kelemahannya. Ia membiarkan Zhuo Yi mencintainya, mengira bahwa ia adalah penyelamatnya. Namun di balik senyum manisnya, ia merencanakan balas dendam yang sempurna. Malam itu, di bawah rembulan berdarah, Mei Lan mengungkap kebenaran di hadapan seluruh istana. Bukti-bukti terungkap, satu per satu, bagai kepingan kaca yang menusuk jantung. Zhuo Yi terdiam, tak mampu membela diri. Pengkhianatan itu terlalu besar, terlalu mengerikan. "Kau pikir aku akan memaafkanmu, Zhuo Yi? Kau salah besar! Kau membunuh keluargaku, kau mencuri masa depanku!" Mei Lan berteriak, suaranya menggema di seluruh istana. "Sekarang, giliranmu yang merasakan sakitnya kehilangan!" Balas dendam Mei Lan tak terhindarkan. Ia merebut tahta, mengasingkan Zhuo Yi, dan meninggalkannya dalam kesepian dan penyesalan. Namun kemenangan itu terasa pahit, bagai racun yang menggerogoti jiwanya. Di penghujung malam, di bawah pohon *feng huang* yang menjadi saksi bisu janji mereka, Mei Lan menemukan Zhuo Yi terbaring lemah. Ia menatapnya dengan mata kosong, tak ada lagi amarah, hanya kehampaan. "Mei Lan… maafkan aku…" bisik Zhuo Yi, napasnya tersengal. Mei Lan berlutut di sampingnya, tangannya berlumuran darah Zhuo Yi. Ia menatap langit yang gelap, merasakan hujan abu yang semakin deras. "Aku… tidak pernah… benar-benar… membencimu…" *Dan dalam keheningan abadi, sebuah rahasia lain ikut terkubur.*
You Might Also Like: Jual Produk Skincare Lotase Original
Post a Comment