Baik, inilah kisah Dracin yang Anda minta, dengan sentuhan yang Anda inginkan: **Kau Meninggalkanku di Bawah Hujan Merah, Tapi Aku Tetap Tersenyum** Hujan. Selalu hujan. Langit Yincheng *selalu* menangis setelah kepergianmu. Dulu, kita pernah berjanji, di bawah pohon *sakura* yang sekarang layu, bahwa kita akan menghadapi badai bersama. Tapi, kau pergi. Kau meninggalkanku di bawah hujan merah darah, tanpa sepatah kata pun. Aku ingat saat itu, pandanganku buram, suara sirene memekakkan telinga, dan yang terakhir kulihat adalah wajahmu yang pucat, **TERTUTUP** oleh derasnya hujan. Kini, aku kembali. Bukan sebagai diriku yang dulu, yang penuh tawa dan mimpi. Aku adalah roh. Bayangan yang *menolak* pergi. Aku bergentayangan di antara dunia yang hidup dan dunia arwah, terjebak di batas yang kabur. Rumah kita. Aku sering berdiri di depan pintu, melihat ibumu menyirami bunga krisan putih kesukaanmu. Matanya sayu, rautnya penuh duka. Aku ingin memeluknya, menghiburnya, mengatakan bahwa aku baik-baik saja di sini. Tapi, aku hanyalah angin. Sentuhan yang tak terasa. Makammu. Di sanalah aku menemukan kedamaian palsu. Hujan yang jatuh di atas nisanmu terasa seperti air mata. Aku berbisik, "Maafkan aku. Maafkan aku karena tidak mengatakan *segalanya*." Dulu, aku menyimpan rahasia. Rahasia yang menghancurkanmu, dan akhirnya, menghancurkanku juga. Aku tahu kau tidak akan memaafkanku jika kau tahu kebenaran. Tapi, kebenaran itu *lebih* berat dari dosa. Itu adalah beban yang kupikul sendiri sampai akhir hayatku. Aku kembali bukan untuk balas dendam, bukan untuk menuntut keadilan. Aku kembali untuk *membebaskanmu*. Membebaskanmu dari kebohongan yang kuciptakan. Membebaskanmu agar kau bisa beristirahat dengan tenang. Aku mengikuti langkah kekasihmu, Li Wei. Dia menyimpan surat. Surat yang seharusnya kubakar sebelum aku pergi. Surat yang berisi kebenaran yang akan menghancurkan *semua* yang kita cintai. Aku melihatnya membuka surat itu, matanya membelalak, wajahnya berubah pucat pasi. Dia membaca setiap kata, setiap kalimat, dengan gemetar. Dan saat itulah, aku mengerti. Kebenaran memang menyakitkan, tapi kejujuran adalah kunci. Li Wei menangis. Dia berlutut di depan makammu, menggenggam erat surat itu. Dia berjanji akan melakukan apa yang seharusnya kulakukan dulu. Aku melihat cahaya. Cahaya yang *begitu* terang, begitu hangat. Aku merasakan tarikan yang kuat, memanggilku untuk pulang. Tugas selesai. Beban terangkat. Aku akhirnya bisa beristirahat. Di bawah hujan yang perlahan mereda, roh itu, yang dulu bernama Lin Mei, mungkin saja baru saja tersenyum untuk *terakhir* kalinya...
You Might Also Like: 118 Best Images

Post a Comment