**Mahkota yang Berlumur Darah Sendiri** Hujan musim semi membasahi Kota Terlarang, mencuci debu sejarah dan darah pengkhianatan. Kaisar Lian, duduk di singgasananya yang megah, merasakan dinginnya batu giok merambat ke tulang-tulangnya. Di tangannya tergenggam erat mahkota naga emas bertatahkan batu rubi—mahkota yang **berlumur darahnya sendiri**. Dulu, mahkota ini adalah impian bersama antara dirinya dan Selir Yuè, cinta pertamanya, *satu-satunya* wanitanya. Mereka berjanji akan memerintah bersama, membawa kemakmuran bagi kerajaan, dan membesarkan anak-anak dengan cinta dan keadilan. Namun, janji adalah angin. Kekuasaan adalah candu. "Yuè'er..." bisik Kaisar Lian, suaranya serak tertelan gemuruh guntur. Di benaknya terbayang wajah Yuè yang terakhir dilihatnya: pucat pasi di bawah siraman cahaya obor, air mata mengalir di pipi, dan bibir yang berbisik, "Aku membencimu, Lian... sampai akhir hayatku..." Pengkhianatan adalah racun yang bekerja perlahan. Demi ambisi memperluas wilayah dan menstabilkan tahta, Kaisar Lian menikahi putri dari suku barbar utara—alasan yang masuk akal, strategi politik yang cemerlang. Tapi bagi Yuè, itu adalah belati yang menusuk jantungnya. Ia menyaksikan cintanya dihancurkan, harga dirinya diinjak-injak, dan kepercayaannya dikhianati. Ia memilih mengakhiri hidupnya sendiri, meninggalkan Kaisar Lian dengan kekuasaan yang hampa dan penyesalan yang abadi. Sekarang, sepuluh tahun telah berlalu. Kaisar Lian telah menaklukkan banyak wilayah, kerajaannya disegani, dan namanya ditakuti. Tapi setiap malam, ia bermimpi tentang Yuè. Setiap senja, ia melihat bayangannya di setiap sudut istana. Ia telah *membunuh* Yuè, dan membunuh dirinya sendiri bersamanya. "Aku... aku mencintaimu, Yuè'er..." ucapnya lagi, kali ini lebih keras, seolah berusaha memecah kesunyian istana. Air mata akhirnya mengalir di pipinya, membasahi jubah naga emasnya. Ia merasakan sakit yang tajam di dadanya, bukan karena racun atau pedang, tapi karena beban dosa yang tak terampuni. Tiba-tiba, pintu ruangan singgasana terbuka. Seorang kasim tua terhuyung masuk, wajahnya pucat pasi. "Yang Mulia... Putri mahkota... ditemukan tewas..." Kaisar Lian tertegun. Putri mahkota adalah anak perempuannya dari permaisuri suku barbar, pewaris tahta yang ia persiapkan dengan susah payah. Ia bangkit berdiri, kakinya terasa lemas. "Keracunan..." lanjut kasim itu dengan suara gemetar. "Racun yang sama... yang digunakan Selir Yuè..." Kaisar Lian membeku. Ia menatap mahkota di tangannya, rubi merahnya berkilauan bagai darah. *Keadilan memang butuh waktu, tetapi pada akhirnya, ia akan datang dengan caranya sendiri.* *Apakah ini cinta, atau dendam yang merangkai takdir?*
You Might Also Like: Pays Couleur Villes Iles Capitales

Post a Comment