Aku Tahu Cinta Ini Terkutuk, Tapi Tak Ada Kutukan yang Lebih Indah
Bulan purnama menyoroti Danau Baihua, permukaannya tenang seperti cermin yang menyimpan rahasia. Di tepi danau, berdiri Li Wei dan Zhang Jin, dua pemuda yang tumbuh bersama di bawah naungan Klan Naga Emas. Persahabatan mereka sekuat baja, setidaknya itulah yang terlihat. Namun, di balik senyum dan canda tawa, tersembunyi labirin rahasia dan pengkhianatan yang siap meruntuhkan segalanya.
"Jin, ingatkah saat kita berjanji akan melindungi Klan ini sampai akhir hayat?" tanya Li Wei, suaranya bagai alunan seruling yang menyimpan nada getir.
Zhang Jin menoleh, matanya berkilat tertimpa cahaya bulan. "Tentu saja, Wei. Janji itu terukir dalam darahku."
Darah. Kata itu bergema di benak Li Wei. Darah yang sama yang mengalir dalam nadinya dan nadi Jin, darah yang seharusnya menyatukan mereka, kini menjadi sungai pemisah. Karena, di balik ikatan persahabatan itu, tersembunyi sebuah rahasia yang diturunkan dari generasi ke generasi: Li Wei dan Zhang Jin bukanlah sekadar teman. Mereka adalah saudara tiri, terikat oleh darah dan takdir yang sama. Dan, lebih parah lagi, salah satu dari mereka ditakdirkan untuk mengkhianati yang lain.
Malam-malam berikutnya diisi dengan tatapan curiga dan percakapan yang sarat makna tersembunyi. Li Wei mulai melihat perubahan pada diri Jin. Ambisi membara di matanya, dan bisikan-bisikan di istana menyebutkan bahwa Jin diam-diam menjalin hubungan dengan para petinggi Klan Serigala Perak, musuh bebuyutan Klan Naga Emas.
"Jin, apa benar kau bersekutu dengan Klan Serigala Perak?" tanya Li Wei suatu malam, nadanya setajam silet.
Jin tertawa, tawa yang dingin dan menusuk tulang. "Kau terlalu percaya pada rumor, Wei. Atau, jangan-jangan, kau takut aku akan merebut posisimu sebagai pewaris Klan?"
Kata-kata itu menghantam Li Wei seperti pukulan telak. Jadi, ini alasannya. Ambisi. Kekuasaan. Jin menginginkan segalanya.
Rahasia demi rahasia terkuak bagai kelopak bunga yang layu. Terungkap bahwa ayah Li Wei dan Jin, sang Kepala Klan Naga Emas, telah berselingkuh dengan ibu Jin, seorang wanita dari Klan Serigala Perak. Pengkhianatan itu, yang ditutupi selama bertahun-tahun, kini menjadi bom waktu yang siap meledak.
Puncak dari segalanya terjadi saat perayaan festival musim gugur. Di tengah keramaian dan kemeriahan, Jin mengkhianati Klan Naga Emas. Ia membuka gerbang istana untuk pasukan Serigala Perak, yang menyerbu dan membantai para prajurit Klan Naga Emas.
Li Wei menyaksikan dengan hati hancur saat Jin berdiri di samping pemimpin Serigala Perak, senyum kemenangan terukir di wajahnya. AKU TIDAK PERCAYA INI!
"Kau... kau mengkhianati kita semua?" bisik Li Wei, air mata mengalir di pipinya.
"Maafkan aku, Wei," kata Jin, suaranya tanpa penyesalan sedikit pun. "Tapi aku tidak punya pilihan. Aku harus membalas dendam atas nama ibuku."
Rupanya, ibu Jin telah diusir dari Klan Naga Emas setelah perselingkuhannya terungkap, dan ia meninggal dalam kesengsaraan. Dendam membara di hati Jin selama bertahun-tahun, dan ia rela melakukan apa saja untuk membalas kematian ibunya.
Li Wei, dengan amarah yang membara, menghunus pedangnya. Pertarungan antara dua saudara itu tak terhindarkan. Mereka bertarung dengan sengit, masing-masing dengan luka di hati yang lebih dalam dari luka di tubuh. Pada akhirnya, Li Wei berhasil melumpuhkan Jin.
"Kenapa, Jin? Kenapa kau melakukan ini?" tanya Li Wei, pedangnya terhunus di leher Jin.
Jin tersenyum pahit. "Karena... aku mencintaimu, Wei. Aku selalu mencintaimu. Tapi cinta ini... terkutuk."
Li Wei terdiam. Pengakuan itu menghantamnya bagai petir di siang bolong. Ia selalu merasakan sesuatu yang aneh antara dirinya dan Jin, sesuatu yang lebih dari sekadar persahabatan. Tapi ia tak pernah menyadari bahwa perasaan itu adalah cinta. Cinta yang terlarang, cinta yang terkutuk.
Dengan air mata yang terus mengalir, Li Wei mengayunkan pedangnya. Kematian Jin mengakhiri siklus pengkhianatan dan dendam. Namun, itu juga merenggut sebagian dari jiwa Li Wei.
Saat Klan Naga Emas kembali berjaya di bawah kepemimpinan Li Wei, ia berdiri di tepi Danau Baihua, menatap bulan purnama. Bayangan Jin menari-nari di permukaan air.
"Kuharap... di kehidupan selanjutnya, kita bisa saling mencintai tanpa kutukan..."
You Might Also Like: Reseller Skincare Jualan Online Mudah
Post a Comment