Pelukan yang Mengantar Kepergian
Embun pagi merayap di kelopak sakura, serupa air mata yang enggan jatuh. Mei Hua, dengan gaun sutra putihnya, berdiri di tepi jurang. Angin membelai rambutnya yang hitam legam, membawa aroma bunga plum yang pahit. Di tangannya tergenggam sebuah liontin giok berbentuk naga, pusaka keluarga yang kini terasa seperti bara api.
"Mei Hua…" Suara itu memecah keheningan. Li Wei, pria yang dicintainya, pria yang menghancurkannya, berdiri di belakangnya. Matanya teduh, tapi Mei Hua tahu, di balik keteduhan itu bersembunyi kebohongan.
Dulu, Li Wei adalah mataharinya. Cahayanya menghangatkan hatinya yang beku. Mereka tumbuh bersama, berbagi mimpi di bawah langit yang sama. Li Wei yang pandai melukis dan Mei Hua yang lihai bermain guzheng. Cinta mereka tumbuh seiring berjalannya waktu, seindah lukisan gulir dan semerdu alunan nada. Tapi lukisan itu ternoda, nada itu sumbang.
"Aku tahu," bisik Mei Hua, suaranya nyaris tak terdengar. "Aku tahu semuanya, Li Wei."
Dinamika mereka selama ini dibangun di atas pasir. Mei Hua hidup dalam kebahagiaan semu, dibutakan oleh cinta. Li Wei, terperangkap dalam jaringan kebohongan yang ia ciptakan sendiri. Kebenaran terungkap perlahan, bagai tetesan tinta yang merusak lukisan indah. Ayah Mei Hua, seorang jenderal besar, tewas bukan karena kecelakaan seperti yang dikatakan Li Wei, melainkan karena pengkhianatan. Dan Li Wei, dengan senyum manisnya, adalah dalang di balik semua itu.
"Aku… aku melakukannya untukmu, Mei Hua," Li Wei mencoba meraih tangannya. "Untuk masa depan kita."
Tangan Mei Hua menepisnya. Sentuhan Li Wei kini terasa menjijikkan. "Masa depan? Kau pikir ada masa depan setelah ini? Kau membunuh ayahku, Li Wei! Kau merobek hatiku menjadi serpihan!"
Konflik meledak bagai gunung berapi. Semua kebohongan, semua kepalsuan, semua pengkhianatan, meluap menjadi amarah yang membakar. Mei Hua menggenggam liontin naganya erat-erat. Ini adalah kebenaran terakhir yang ia temukan: Li Wei berencana menikahi putri Kaisar untuk memperkuat posisinya. Cinta Mei Hua hanyalah batu loncatan.
"Kau tahu," kata Mei Hua, bibirnya membentuk senyum tipis yang mengerikan. "Aku selalu mengagumi lukisanmu, Li Wei. Terutama lukisan bunga plum yang kau buat untukku."
Li Wei menatapnya dengan bingung. "Apa maksudmu?"
Mei Hua mengulurkan tangan, mendekat, dan memeluk Li Wei. Pelukan itu terasa hangat, namun menyimpan racun mematikan. "Itu… lukisan terakhirmu."
Di telinga Li Wei, Mei Hua berbisik, "Liontin ini… diracuni. Racun yang tidak meninggalkan jejak."
Li Wei terhuyung mundur, matanya membelalak ngeri. Ia merasakan panas membakar di dadanya. Mei Hua melepaskan pelukannya, membiarkan Li Wei jatuh ke jurang. Ia menatap tubuh Li Wei yang menghilang ditelan kabut.
Balas dendam Mei Hua tenang, seperti senyum perpisahan. Ia tidak berteriak, tidak menangis. Ia hanya berbalik, meninggalkan tempat itu dengan langkah tegar. Hatinya hancur, tapi jiwanya tegak.
Sebelum beranjak pergi, Mei Hua memandang langit yang mulai memerah. Ia berbisik lirih, "Semoga kau tidak pernah menemukan kedamaian di alam sana, Li Wei."
Matahari terbit, tapi bayangan di hatinya takkan pernah hilang sepenuhnya.
You Might Also Like: A Better Chance Animal Rescue Image
Post a Comment