Tentu, inilah kisah dracin pendek dengan elemen yang Anda inginkan: **Air Mata yang Menjadi Bunga Damai** Di tengah lembah yang selalu diselimuti kabut perak, berdirilah sebuah kedai teh tua. Di sanalah, Mei Lan, seorang gadis dengan mata sekelam obsidian, menyeduh teh setiap pagi. Ia tidak ingat masa lalunya, hanya serpihan mimpi tentang istana megah, pedang berlumuran darah, dan *pengkhianatan*. Namun, aroma bunga plum yang mekar di halaman belakang kedai selalu menghadirkan _ketenangan_ yang aneh. Bunga itu tidak pernah layu, seakan menyimpan **RAHASIA**. Suatu hari, seorang pria bernama Li Wei datang berkunjung. Matanya teduh, namun Mei Lan merasakan getaran aneh saat melihatnya. Li Wei mengaku seorang pedagang keliling, tapi Mei Lan melihat lebih dari itu; ia melihat *bayangan* seorang jenderal perkasa. Li Wei mulai sering berkunjung. Ia bercerita tentang legenda Kaisar Zhou, seorang pemimpin bijaksana yang dikhianati oleh tangan kanannya, Jenderal Huan, demi tahta dan wanita. Setiap kali Li Wei menyebut nama Jenderal Huan, bunga plum di halaman belakang seakan bergetar, kelopaknya berguguran seperti air mata. Mei Lan mulai mengingat. Istana, pedang, dan wajah Jenderal Huan yang penuh *kelicikan*. Ia ingat, dirinya adalah Selir Ratu Xian, orang yang paling dicintai Kaisar Zhou, dan Jenderal Huan membunuhnya untuk melenyapkan saksi mata pengkhianatannya. Air matanya dulu, diubah oleh dewa menjadi bunga plum yang abadi. Li Wei, tanpa disadarinya, terus menguak masa lalu Mei Lan. Ia membawa lukisan kuno yang menggambarkan Kaisar Zhou; lukisan itu seperti cermin yang memantulkan jiwa Li Wei sendiri. *Dia adalah Kaisar Zhou, reinkarnasi sang kaisar yang dikhianati.* Saat ingatan Mei Lan pulih sepenuhnya, ia tahu apa yang harus dilakukan. Jenderal Huan, di kehidupan ini, adalah seorang pejabat tinggi yang korup. Bukti kejahatannya ada di tangan Mei Lan, yang ia peroleh tanpa sengaja dari mimpi-mimpinya. Suatu malam, Li Wei berlutut di depan Mei Lan, menawarkan *balas dendam* yang kejam. Tapi Mei Lan menolak. "Kebencian hanya akan melahirkan kebencian," ujarnya lembut, sambil menyeduh teh terbaiknya. Ia kemudian menyerahkan bukti kejahatan Jenderal Huan kepada pihak berwenang, tanpa menyebut nama Li Wei. Jenderal Huan ditangkap, jabatannya dicopot, dan reputasinya hancur. Tidak ada darah yang tertumpah, hanya keadilan yang ditegakkan. Balas dendam yang manis, *bukan begitu*? Li Wei, atau Kaisar Zhou, menatap Mei Lan dengan penuh kagum. "Kau benar, Mei Lan. Kedamaian lebih berharga dari tahta." Mei Lan tersenyum tipis. Bunga plum di halaman belakang mekar lebih lebat dari sebelumnya. Ia mengangkat cangkir tehnya, menatap langit yang mulai gelap. "Mungkin… di kehidupan selanjutnya, kita bisa… *benar-benar*…" Dan di saat itu, angin bertiup kencang, membawa aroma bunga plum yang manis, seolah membisikkan: kita akan bertemu lagi, *setelah seribu tahun.*
You Might Also Like: Kelebihan Sunscreen Mineral Untuk Kulit
Post a Comment