Baiklah, ini dia kisah Dracin tragis berjudul 'Janji yang Kubawa ke Neraka': **Janji yang Kubawa ke Neraka** Kabut lembab menyelimuti Desa Lembah Bulan, persis seperti rahasia yang menyelimuti hati kami berdua, Meilan dan aku, Lianhua. Kami tumbuh bersama di antara kebun teh dan legenda hantu, saudara seperguruan, sahabat, lebih dari itu, *soulmate*. Meilan selalu lebih anggun, gerakannya bagai tarian naga di tengah badai, sementara aku, Lianhua, lebih keras kepala, lebih gigih, bagai akar pohon beringin yang mencengkeram bumi. "Lianhua, kau tahu, bukan?" bisiknya suatu malam, di bawah cahaya rembulan yang pucat. "Takdir kita terikat. Kita akan menaklukkan dunia bersama." Senyumnya manis, semanis madu. Tapi matanya… matanya menyimpan sesuatu. Sebuah *kegelapan*. Waktu berlalu. Latihan kami semakin berat, persaingan semakin sengit. Guru Besar memuja Meilan, keanggunannya, kecerdasannya. Aku hanya bayang-bayang, alat untuk menguji ketangguhannya. "Lianhua, kau harus mengerti," ucap Meilan suatu hari, nadanya lirih namun menusuk. "Aku… aku dipilih." Dipilih untuk apa? Aku tak mengerti. Rahasia demi rahasia mulai terkuak. Tentang garis keturunan terlarang, tentang kekuatan kuno yang mengalir dalam darah Meilan, tentang *ramalan* yang menyebutkan bahwa dia akan menjadi Kaisar Langit berikutnya. Dan aku? Aku hanyalah kunci. Kunci untuk membuka kekuatan terpendamnya. **PENGKHIANATAN.** Kata itu berbisik di telingaku setiap malam. Aku merasa seperti tikus yang terjebak dalam labirin, sementara Meilan, dengan senyum manisnya, menungguku di ujung sana. "Maafkan aku, Lianhua," bisiknya saat dia menusukku dengan pedang pusakanya. "Aku harus melakukan ini. Untuk kebaikan semua orang." Darahku membasahi tanah. Sakitnya tak tertahankan. Tapi rasa *sakit* yang sebenarnya adalah melihat senyumnya, senyum kemenangan yang dulu kurasa hanya untukku. Aku terbaring di tanah, napas tersengal. Desa Lembah Bulan terbakar. Meilan berdiri di depanku, cahaya obor memantul di matanya, membuatnya tampak seperti iblis yang baru saja keluar dari neraka. "Aku selalu mencintaimu, Lianhua," katanya. "Tapi kekuasaan… kekuasaan lebih menggoda." Kata-kata itu adalah racun. Aku berusaha bangkit, membalas dendam. Tapi tubuhku terlalu lemah. "Kau pikir kau akan menang?" tanyaku, suaraku serak. "Kau salah, Meilan. Bahkan di neraka pun, aku akan membalas dendam." Meilan tertawa. Tawa yang membuat darahku mendidih. Dia berbalik dan pergi, meninggalkan aku dalam kobaran api. *Tapi aku tidak mati.* Aku bangkit dari abu, didorong oleh dendam yang membara. Aku akan merebut kembali apa yang telah direnggut dariku. Kekuatan, kehormatan, dan… *cinta*. Bertahun-tahun berlalu. Aku berlatih, aku belajar, aku menjadi lebih kuat dari yang pernah kubayangkan. Aku menjadi bayangan yang menghantui Meilan, Kaisar Langit yang sekarang berkuasa dengan tangan besi. Saat kami akhirnya berhadapan, di puncak Gunung Abadi, aku melihat ketakutan di matanya. Ketakutan yang manis. "Kau kembali, Lianhua," katanya. "Aku tahu kau akan kembali." "Aku datang untuk menagih janji yang kau bawa ke neraka," jawabku, pedang di tanganku bergetar karena amarah. Pertarungan kami adalah tarian maut. Petir menyambar, bumi bergetar. Tapi akhirnya, aku berhasil mengalahkannya. Meilan tergeletak di kakiku, darah membasahi jubah kebesarannya. Aku mengangkat pedangku, siap untuk mengakhiri hidupnya. "Lianhua…" bisiknya, napasnya tersengal. "Jangan… jangan lakukan ini." Aku terdiam. Aku menatap matanya, mata yang dulu begitu kukagumi. "Mengapa, Meilan?" tanyaku. "Mengapa kau mengkhianatiku?" Dia tersenyum pahit. "Karena… karena aku takut. Aku takut kau akan merebut segalanya dariku. Aku mencintaimu, Lianhua. Terlalu mencintaimu." Kata-kata itu menghantamku seperti badai. *Cinta*? Apakah semua ini karena cinta? Aku menurunkan pedangku. Aku tidak bisa membunuhnya. "Pergilah, Meilan," kataku. "Pergi dan jangan pernah kembali." Dia menatapku dengan tatapan yang tak bisa kubaca. Lalu dia berbalik dan pergi, menghilang di balik kabut. Aku berdiri di sana, sendirian di puncak Gunung Abadi. Aku telah mendapatkan balas dendamku. Tapi aku tidak merasa bahagia. *Semua yang kulakukan, kuharap kau mengerti, bukan hanya karena dendam.*
You Might Also Like: Tafsir Disengat Burung Raja Udang
Post a Comment