Baiklah, ini dia kisah pendek bergaya dracin dengan penekanan yang kamu minta: **Aku Tersenyum di Hari Wisuda, Tapi Air Mataku Jatuh Tanpa Izin** Lampu sorot menyilaukan. Tepuk tangan bergema. Di atas panggung, aku tersenyum. Senyum yang sudah kulatih di depan cermin selama berbulan-bulan. Senyum yang seharusnya melambangkan kebahagiaan, kebanggaan, dan awal dari sebuah babak baru. Tapi, air mataku jatuh tanpa izin. Satu, dua, lalu mengalir deras membasahi pipi. Aku buru-buru menghapusnya. Tidak boleh ada yang melihat. Lima tahun. Lima tahun aku belajar siang malam, berusaha menjadi yang terbaik, bukan hanya untuk diriku, tapi juga untuk *dia*. Lima tahun *dia* berjanji akan selalu ada di sampingku, mendukungku, mencintaiku. Lima tahun *dia* adalah matahariku. Dulu, pelukannya terasa hangat, menenangkan. Sekarang, rasanya beracun. Setiap sentuhannya membangkitkan kenangan manis yang kini terasa pahit. Setiap kata cintanya terngiang-ngiang, berubah menjadi bisikan penghianatan yang menyayat hati. Aku melihat *dia* di antara kerumunan. Tampan seperti biasa. Tapi, bukan aku yang digandengnya. Bukan aku yang dipeluknya. Bukan aku yang kini menjadi mataharinya. Ada perempuan lain, cantik dan muda, tertawa bersamanya. Perempuan yang aku kenal. Sahabatku. Dunia seolah berhenti berputar. Semuanya menjadi sunyi, kecuali suara detak jantungku yang berpacu kencang. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh, membakar setiap sel. Tapi, aku tetap berdiri tegak. Tetap tersenyum. Aku tidak akan membiarkan mereka melihat kehancuranku. Aku akan tetap elegan, anggun, bahkan di saat hatiku hancur berkeping-keping. Aku berjalan menuruni panggung, melewati kerumunan orang. Aku mendengar namanya dipanggil. *Dia* akan mendapatkan penghargaan atas prestasinya. Penghargaan yang seharusnya menjadi milikku. Tapi, aku tidak peduli. Aku punya rencana. Bukan rencana balas dendam berdarah. Bukan rencana untuk menghancurkan hidup mereka. Aku hanya ingin mereka menyesal. Menyesal karena telah meremehkanku. Menyesal karena telah mengkhianati cintaku. Aku mendekati *dia* yang sedang berpidato. Di tanganku, tergenggam sebuah amplop. Amplop berisi surat pengunduran diriku dari perusahaan yang dibangun *dia* dengan susah payah. Perusahaan tempat aku bekerja sebagai tangan kanannya selama bertahun-tahun. Perusahaan yang kini, tanpa kehadiranku, akan kehilangan arah. Aku menyodorkan amplop itu padanya. *Dia* menatapku bingung. Aku tersenyum tipis. Senyum yang menyimpan sejuta arti. "Selamat atas penghargaanmu," bisikku. "Semoga sukses dengan… kehidupan barumu." Aku berbalik dan pergi, meninggalkan *dia* yang terpaku di tempatnya. Aku tahu, dalam hatinya, penyesalan itu sudah mulai tumbuh. Penyesalan yang akan menghantuinya seumur hidup. Bukan darah yang mengalir, tapi penyesalan yang abadi. *Itu* balas dendamku. *Itu* cukup. Aku melangkah keluar dari gedung, menghirup udara segar. Air mataku masih mengalir. Tapi, kali ini, bukan karena sakit hati. Melainkan karena… kelegaan. Aku akan memulai hidup baru. Tanpa *dia*. Tanpa masa lalu. Tapi, jauh di lubuk hatiku, aku tahu, cinta dan dendam lahir dari tempat yang sama.
You Might Also Like: Bayangan Yang Menunggu Di Balik Pintu

Post a Comment