Cerita Seru: Janji Yang Dikhianati Di Balai Kekaisaran

## Janji yang Dikhianati di Balai Kekaisaran Hujan senja membasahi atap Balai Kemegahan, setiap tetesnya adalah *isak* pilu yang tak terucapkan. Di bawahnya, roh Bai Lianhua melayang, tubuhnya transparan seperti kabut pagi. Dia adalah bayangan yang **menolak** pergi, terikat di antara dunia hidup dan arwah, sebuah janji yang terkhianati menjeratnya. Lima tahun lalu, di tempat yang sama, di bawah sorot lentera yang kini berdebu, dia bersumpah setia pada Kaisar, kekasihnya. Sumpah yang dibalas dengan pengkhianatan. *Racun* mengakhiri hidupnya, kebenaran terpendam bersamanya ke dalam liang lahat. Setiap malam, dia kembali. Bukan untuk menuntut balas, meski *dendam* membara di hatinya yang dulu. Dia mencari sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih berharga daripada darah dan air mata. Dia mencari *kedamaian*. Balai itu sunyi. Hanya langkah kakinya yang tak bersuara, menyusuri lorong-lorong yang pernah menjadi saksi bisu cintanya. Di setiap sudut, bayangan masa lalu berbisik. Dia melihat dirinya yang dulu, tertawa, menari, mencintai tanpa ragu. Sekarang, yang tersisa hanyalah **kegelapan** dan keinginan untuk mengungkap apa yang *sebenarnya* terjadi. Dia melihat arwah-arwah lain, bergentayangan dalam siksaan abadi. Mereka adalah korban intrik istana, jiwa-jiwa yang terlupakan. Mereka menatapnya dengan mata kosong, seolah bertanya: *Apa yang kau cari di sini, Lianhua?* Dia mencari sebuah kotak musik. Kotak musik kecil dari kayu cendana, yang dulu diberikan Kaisar kepadanya. Di dalamnya tersimpan surat, *surat pengakuan* yang akan membuktikan bahwa dia tidak bersalah. Bahwa dia tidak pernah berkhianat. Bahwa dia hanya mencintai. Dia menemukannya di bawah lantai Balai Keadilan, tersembunyi di balik tumpukan prasasti kuno. Kotak musik itu berdebu, tetapi ketika ia membukanya, melodi lembut mengalun, memecah kesunyian. Surat itu ada di sana, tertulis dengan tinta emas, pengakuan Kaisar bahwa ia dijebak oleh Permaisuri. Air mata—atau mungkin hanya tetesan hujan yang menempel di wajahnya—menetes ke surat itu. Beban di hatinya terasa *ringan*, meski hanya sesaat. Dendamnya menguap, digantikan oleh perasaan *lega*. Dia telah menuntaskan janjinya. Dia telah menemukan kebenaran. Sekarang, dia bisa pergi. Di saat-saat terakhir, dia melayang di atas Balai Kemegahan, memandang hujan yang masih turun dengan tenang. Lalu, sesuatu yang mirip senyuman terukir di wajahnya yang pucat, seolah mengatakan, "Akhirnya..."
You Might Also Like: Tutorial Skincare Lokal Untuk Kulit

Post a Comment