Absurd tapi Seru: Bayangan Yang Mencintai Musuh Lama

## Bayangan yang Mencintai Musuh Lama Hujan meratapi Seoul. Setiap tetesnya adalah notifikasi yang tak kunjung datang dari **DIA**, nama yang kini hanya menghuni daftar blokir di ponsel Ji-woo. Aroma kopi memenuhi apartemennya, pahit seperti sisa kenangan yang tak bisa ia telan. Dulu, aroma ini selalu diiringi tawa renyah Jae-hyun, musuh sekaligus *mantan kekasihnya*. Pertemuan mereka di dunia digital bagai petir di siang bolong. Ji-woo, seorang *influencer* mode yang sedang naik daun, dan Jae-hyun, seorang *hacker* misterius yang membocorkan data perusahaan fesyen tempat Ji-woo bekerja. Dendam menyala-nyala di awal. Saling sindir di kolom komentar, saling serang di forum-forum *online*. Tapi, di balik layar, di balik anonimitas *avatar*, percikan lain muncul. Percikan ketertarikan, bahkan… cinta? Mereka bertemu di dunia nyata. Jae-hyun ternyata lebih tampan dari bayangan yang diciptakan Ji-woo. Pertemuan yang diwarnai pertengkaran sengit berubah menjadi ciuman panas di tengah hujan kota. Mereka jatuh ke dalam pusaran asmara yang rumit, terlarang, dan berbahaya. Namun, kebahagiaan itu rapuh. Jae-hyun menghilang tanpa jejak. Pesan terakhirnya hanya berupa “*Maafkan aku*.” Ji-woo ditinggalkan dengan luka menganga dan pertanyaan yang menggantung. Mengapa? Apa yang terjadi? Bertahun-tahun berlalu. Ji-woo mencoba melupakan Jae-hyun, membangun karier, dan mencari cinta yang baru. Namun, bayangan Jae-hyun selalu menghantuinya. Ia menemukan petunjuk tersembunyi di sisa *chat* mereka yang tak terkirim, di mimpi-mimpi aneh yang terus berulang. Ia menyadari bahwa ada rahasia besar yang disembunyikan Jae-hyun, rahasia yang melibatkan keluarga Ji-woo sendiri. Jae-hyun ternyata bukan *hacker* biasa. Ia adalah anak dari CEO perusahaan pesaing yang sengaja mendekati Ji-woo untuk mencuri informasi. Tapi, ia juga jatuh cinta sungguhan. Perasaan itu membuatnya bimbang, hingga akhirnya ia memilih untuk menghilang, menyelamatkan Ji-woo dari konsekuensi yang lebih buruk. Kebenaran ini menghancurkan Ji-woo. Ia merasa dikhianati, dimanfaatkan, dan dicintai sekaligus. Ia ingin membalas dendam, tapi pada siapa? Pada Jae-hyun yang sudah meninggalkannya? Pada takdir yang mempermainkannya? Akhirnya, Ji-woo menemukan cara. Sebuah balas dendam yang lembut, tanpa darah, tanpa air mata. Ia menggunakan pengaruhnya sebagai *influencer* untuk menghancurkan reputasi perusahaan Jae-hyun, bukan dengan cara brutal, tapi dengan cara yang elegan dan cerdas. Ia menunjukkan kepada dunia bahwa kejujuran dan keadilan lebih penting daripada kekayaan dan kekuasaan. Di hari terakhir ia melancarkan aksinya, Ji-woo mengirimkan pesan terakhir ke nomor Jae-hyun yang sudah tidak aktif. Sebuah foto dirinya yang sedang tersenyum, tatapan mata yang penuh arti. Pesan itu tidak akan pernah terkirim, tapi ia tahu, di suatu tempat, Jae-hyun akan melihatnya. Lalu, Ji-woo mematikan ponselnya, menghapus semua foto dan *chat* Jae-hyun. Ia berdiri di balkon apartemennya, menatap gemerlap kota Seoul yang tak pernah tidur. Hujan sudah berhenti. Angin bertiup sepoi-sepoi, membawa aroma kopi dan kenangan yang mulai memudar. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Ia **bebas**… *atau belum*?
You Might Also Like: 7 Fakta Interpretasi Mimpi Memelihara

Post a Comment