Ini Baru Cerita! Kau Menatap Jas Mahalku, Tapi Yang Kau Cintai Hanyalah Lelaki Di Baliknya

Baiklah, inilah cerita pendek bergaya *dracin* yang Anda minta, dengan sentuhan lirih, penyesalan, misteri, dan balas dendam tanpa kekerasan: **Kau Menatap Jas Mahalku** Kabut tipis menggantung di atas Danau Xihu, persis seperti tirai kesedihan yang menutupi hatiku. Suara *guqin* yang mengalun dari kejauhan bagai tusukan jarum di setiap ingatan. Di hadapanku, Li Wei berdiri. Gaun sutranya berwarna merah anggur, senada dengan lipstiknya. Tapi matanya… mata itu menatap **jas mahalku**, bukan aku. "Kau terlihat tampan, Zhao… *seperti dulu*," bisiknya, nyaris tak terdengar. Dulu. Ya, dulu. Dulu saat aku bukan siapa-siapa, saat aku masih Zhao Min, pemuda yatim piatu yang bekerja sebagai pelayan di kediaman keluarga Li. Dulu saat Li Wei, putri tunggal keluarga Li, tersenyum padaku dengan tulus. Lalu semuanya berubah. Ayah Li Wei menjodohkannya dengan Lin Fan, pewaris Grup Lin yang *menggiurkan*. Aku tahu, Li Wei tak mencintai Lin Fan. Aku tahu, **dia mencintaiku**. Tapi apa dayaku? Aku hanyalah debu di bawah kakinya. Aku memilih diam. Diam bukan karena lemah, tapi karena aku menyimpan *rahasia*. Rahasia tentang kebangkrutan Grup Lin yang sebenarnya diatur oleh... seseorang. Seseorang yang punya dendam terpendam pada keluarga Lin. Seseorang yang kini berdiri di puncak piramida, mengenakan jas mahal ini. "Kau… tidak bahagia, Wei?" tanyaku, lirih. Dia terdiam. Pandangannya menyapu Danau Xihu, lalu kembali menatapku. Ada jejak air mata di sudut matanya. "Kebahagiaan adalah ilusi, Zhao. Sama seperti… *cinta kita*," jawabnya, getir. Beberapa tahun berlalu. Aku menjadi semakin *berkuasa*. Grup Lin runtuh. Lin Fan menghilang. Li Wei hidup dalam pernikahan yang hambar. Aku bisa saja merebutnya kembali. Aku bisa saja menghancurkan semua yang menghalangi jalanku. Tapi aku memilih untuk tidak melakukan apa pun. Balas dendam terbaik adalah melihat mereka hidup dalam penyesalan. Suatu malam, aku menerima sepucuk surat tanpa nama. Di dalamnya tertulis: "RAHASIA itu… diketahui seseorang." Jantungku berdegup kencang. Siapa yang tahu? Apa yang mereka ketahui? Lalu aku teringat sesuatu. Sebuah *liontin* perak berbentuk burung phoenix yang pernah kuberikan pada Li Wei dulu. Liontin itu hilang beberapa hari setelah pernikahan Li Wei dengan Lin Fan. Mungkinkah…? Aku mencari Li Wei. Aku menemukannya di rumah lamanya, di tepi Danau Xihu. Dia memegang sebuah *album foto* usang. Di dalamnya, ada foto-foto kami berdua. Senyumnya tulus. Matanya berbinar. "Liontin itu… ada padamu?" tanyaku, pelan. Dia mengangguk. "Aku menyimpannya. Itu satu-satunya pengingat tentang… *dulu*." Lalu dia memberikan sebuah amplop padaku. Di dalamnya ada sebuah foto. Foto Lin Fan, beberapa hari sebelum menghilang. Di belakangnya tertulis: "Aku tahu siapa kau sebenarnya, Zhao Min. Dan aku akan membongkar semuanya." *Lin Fan tahu.* Dia tahu tentang masa laluku. Dia tahu tentang rencana balas dendamku. Dia tahu tentang… *segalanya*. "Dia… mencoba memerasmu?" tanyaku, tercekat. Li Wei mengangguk. "Dia mengancam akan membongkar semuanya jika aku tidak membantunya melarikan diri." *Jadi, Lin Fan tidak menghilang.* Dia bersembunyi. Dia menunggu waktu yang tepat untuk membalas dendam. "Aku… melakukan sesuatu yang buruk, Zhao," bisik Li Wei, air matanya mengalir deras. "Aku… *membantunya*." Aku terdiam. Semuanya menjadi jelas. Kebangkrutan Grup Lin, hilangnya Lin Fan, rahasia masa laluku… semuanya terhubung. Dan Li Wei… adalah kunci dari semuanya. Aku menatapnya. Di matanya, aku melihat penyesalan yang mendalam. Penyesalan karena memilih *keselamatan* daripada cinta. Penyesalan karena telah menjadi pion dalam permainan orang lain. Aku memejamkan mata. Akhirnya, semuanya telah terungkap. Misteri ini telah terpecahkan. Dan yang tersisa hanyalah… *kehampaan*. Aku berbalik, meninggalkan Li Wei di tepi Danau Xihu. Musik *guqin* semakin lirih, bagai ratapan seorang yang kalah. *** Dia menatap jas mahalku, tapi yang dicintainya hanyalah lelaki yang dulu pernah menjadi pelayannya, sebelum takdir memainkan dramanya; dan sekarang, dia tahu, dia selamanya akan hidup dengan beban rahasia yang dia lindungi, rahasia yang kini menjadi rantai yang mengikatnya pada masa lalu yang *tidak akan pernah* bisa dia lupakan… dan semua ini karena dia, untuk selamanya, *terlambat menyadari* siapa aku sebenarnya.
You Might Also Like: 1000 Interesting Pink Flowers Photos

OlderNewest

Post a Comment