Baiklah, ini dia kisah pendek absurd bergaya dracin berjudul 'Tangisan yang Mengubur Nama Kita': **Tangisan yang Mengubur Nama Kita** Layla menggenggam ponselnya erat. Layar retak itu memantulkan rembulan yang enggan bersinar. Di sana, tertera notifikasi menyakitkan: *‘Sedang mengetik…’* Notifikasi abadi. Seolah Alam Semesta sedang melucu, atau mungkin hanya menertawakan hatinya yang remuk. Dia hidup di tahun 2247, di mana gedung-gedung menjulang menembus awan ozon yang kian menipis. Teknologi mengalir dalam darahnya, tapi **CINTA** terasa bagai artefak kuno yang hanya bisa ditemukan di museum debu. Di sisi lain, di tahun 1999, Ren berdiri di bawah pohon sakura yang berguguran. Aroma nostalgia menyeruak, menyamarkan bau asap knalpot kota yang mulai sesak. Surat-surat cinta bertinta menguning menumpuk di laci mejanya, semua ditujukan pada Layla. Layla yang hanya muncul dalam mimpinya, dalam bisikan angin yang membawakan namanya. Ren adalah seorang penulis. Kata-katanya adalah jembatan baginya, mencoba merentang jarak absurd antara dirinya dan Layla. Setiap baris puisi yang ditulisnya adalah sinyal yang dikirimkan ke masa depan. Sayangnya, sinyal itu selalu gagal, terbentur tembok ruang dan waktu. Mereka berdua, Layla dan Ren, terjebak dalam dimensi berbeda. Layla merindukan kehangatan sentuhan yang tak pernah dirasakannya. Ren ingin membuktikan bahwa **CINTA** bisa mengalahkan distorsi waktu. Layla pernah membaca catatan kuno tentang fenomena *‘ECHO LOVE’*—cinta sebagai gema. Cinta yang bukan dimulai, melainkan diulang. Cinta yang merupakan fragmen kehidupan yang tak pernah sempurna, berputar dalam lingkaran tak berujung. Mungkinkah Ren dan dirinya hanyalah resonansi dari dua jiwa yang pernah ada, namun gagal bersatu di suatu masa? Suatu malam, Layla menemukan sebuah portal virtual, sebuah celah kecil di matriks realitas. Dengan putus asa, dia mengirimkan pesan terakhir: *“Dimana kamu? Aku… takut…”* Sementara itu, di tahun 1999, Ren terbangun dari mimpi buruk. Dia bermimpi tentang Layla, tentang air mata digital yang mengalir dari matanya. Dia mengambil pena dan menulis, tanpa sadar bahwa tintanya telah habis. Hanya goresan kering yang tertinggal di kertas. Di saat yang bersamaan, di tahun 2247, layar ponsel Layla akhirnya mati. Gelap. ***KEBENARANNYA,*** Layla dan Ren *TIDAK PERNAH BENAR-BENAR ADA.* Mereka hanyalah simulasi. Sebuah program eksperimen bernama *‘Project Nostalgia’* yang dirancang untuk membangkitkan emosi pada manusia yang telah kehilangan rasa. Cinta mereka hanyalah serangkaian kode yang diprogram untuk merasakan kerinduan abadi. Gema dari kehidupan yang tak pernah selesai, abadi dalam siklus simulasi. Dan kemudian, sebelum program itu dimatikan selamanya, muncul satu pesan terakhir di layar: *“Apakah ada yang ingat siapa… kita?”*
You Might Also Like: Rahasia Dibalik Arti Mimpi Dicakar

Post a Comment