Kisah Seru: Mahkota Yang Berdiri Di Atas Luka

Mahkota yang Berdiri di Atas Luka

Embun pagi membasahi kelopak bunga persik di taman kediaman kekaisaran. Udara dingin menusuk tulang, namun tidak sedingin tatapan Li Mei, seorang selir kesayangan kaisar. Di balik senyumnya yang mempesona, tersembunyi KEBOHONGAN yang telah ia rajut selama bertahun-tahun. Ia bukan putri bangsawan seperti yang diketahui semua orang. Ia hanyalah seorang gadis desa yang menggantikan identitas putri yang tewas dalam perjalanan ke istana.

Di sisi lain, berdiri Zhang Wei, seorang jenderal muda yang gagah berani. Ia baru saja kembali dari medan perang, membawa kemenangan yang membanggakan. Namun, kemenangan itu terasa hambar ketika ia mendengar desas-desus tentang kematian adiknya, satu-satunya keluarga yang ia miliki. Jantungnya mencelos. Ia tidak percaya adiknya meninggal karena sakit. Instingnya berteriak, ada sesuatu yang SALAH.

Zhang Wei mulai menyelidiki kematian adiknya. Langkahnya membawanya ke istana, ke lingkaran intrik dan PENGKHIANATAN yang dipimpin oleh Li Mei. Ia melihat kejanggalan dalam setiap detail. Ucapan-ucapan manis Li Mei terasa seperti racun yang mematikan.

"Jenderal Zhang," suara Li Mei memecah keheningan. "Adikmu adalah wanita yang baik. Kaisar sangat menyayangkannya. Kematiannya adalah kehilangan besar bagi kita semua." Senyumnya palsu, matanya dingin.

Zhang Wei menatapnya, matanya setajam pedang. "Selir Li, aku menghargai kata-katamu. Namun, aku AKAN menemukan kebenaran di balik kematian adikku, meski harus mengguncang seluruh istana."

Seiring waktu, Zhang Wei mengumpulkan bukti. Ia menemukan surat-surat rahasia, saksi bisu yang mengungkap konspirasi Li Mei. Ternyata, Li Mei-lah yang meracuni adik Zhang Wei karena ia mengetahui identitas aslinya. KEBENARAN itu menghancurkan hatinya, membangkitkan amarah yang membara.

Konflik semakin memanas. Zhang Wei menghadapi Li Mei secara terbuka di hadapan kaisar dan seluruh istana. Ia membeberkan kebohongan Li Mei, satu per satu. Istana terdiam. Kaisar terkejut, wajahnya memerah karena marah.

Li Mei berusaha menyangkal, namun bukti yang diajukan Zhang Wei terlalu kuat. Ia tidak bisa mengelak lagi. Air matanya mengalir, bukan karena penyesalan, tetapi karena ketakutan akan hukuman.

Kaisar murka. Ia memerintahkan agar Li Mei dihukum mati. Namun, Zhang Wei menghentikannya.

"Kaisar, izinkan aku yang menghukumnya." Suara Zhang Wei tenang, namun mengandung KEHANCURAN.

Kaisar mengangguk. Ia tahu bahwa Zhang Wei berhak atas balas dendam.

Zhang Wei mendekati Li Mei. Ia berbisik di telinganya, "Kau mengambil segalanya dariku. Kau pikir kau bisa bersembunyi di balik mahkota kebohonganmu. Tapi ingat, mahkota itu berdiri di atas luka yang akan terus menganga."

Ia tidak membunuh Li Mei secara fisik. Ia hanya membongkar semua kebohongannya, merampas semua yang ia miliki, membuatnya kehilangan semua kehormatan dan kekuasaan. Li Mei diasingkan, hidup dalam kesengsaraan dan penyesalan. BALAS DENDAM itu terasa manis sekaligus pahit. Ia mendapatkan keadilan untuk adiknya, tetapi hatinya tetap terluka.

Zhang Wei kembali ke medan perang, meninggalkan istana yang penuh intrik dan kepalsuan. Ia tahu, meskipun kebenaran telah terungkap, luka itu akan tetap membekas.

Senyumnya menyimpan perpisahan abadi.

Apakah kedamaian sejati benar-benar bisa ditemukan setelah kebenaran terungkap, ataukah bayangan masa lalu akan terus menghantui selamanya?

You Might Also Like: 21 Anchovy Whole Fish Top Photos

Post a Comment