Seru Sih Ini! Ia Mengatakan Aku Masa Lalunya, Tapi Tak Pernah Lepas Dari Bayanganku

Baiklah, ini dia kisah dracin intens yang Anda minta: **Ia Mengatakan Aku Masa Lalunya, Tapi Tak Pernah Lepas dari Bayanganku** Malam itu, salju turun dengan kejamnya, menutupi pekarangan kediaman keluarga Li dengan selimut putih yang menipu. Di tengahnya, bercak MERAH memekik, mengoyak kesucian pemandangan. Darah. Darah di atas salju adalah bahasa yang hanya dimengerti oleh dua jiwa yang kini berdiri berhadapan: Meilan dan Chen. Meilan, dengan gaun merah menyala yang kontras dengan putihnya salju, menatap Chen dengan mata sedingin es. Api dupa mengepul di antara mereka, asapnya menari seperti kenangan yang tak mau pergi. "Kau...kau berani kembali," bisik Chen, suaranya serak. Wajahnya, yang dulu tampan dan penuh senyum, kini dipenuhi garis-garis kekhawatiran dan penyesalan. Meilan tertawa, tawa hampa yang menggema di antara heningnya malam. "Kembali? Aku *tidak pernah* pergi, Chen. Aku selalu di sini. Di setiap mimpi burukmu, di setiap kebahagiaan palsumu." Ia mendekat, langkahnya anggun namun mematikan. Di tangannya tergenggam belati perak yang memantulkan cahaya bulan. "Kau bilang aku masa lalumu? Kau bilang kau sudah melupakanku? Omong kosong! Kau membawa aku bersamamu, Chen. Seperti bayangan yang tak bisa kau lepaskan." Chen terhuyung mundur. Bayangan masa lalu memang menghantuinya. Masa lalu yang penuh dengan janji manis di atas abu mimpi-mimpi yang terbakar. Ia ingat tatapan Meilan yang penuh cinta, sebelum ia khianati. Ia ingat sumpahnya, di bawah pohon sakura yang kini rantingnya membeku. Ia ingat… SEGALAnya. "Meilan, kumohon...aku..." "Cukup!" Meilan menginterupsi, suaranya bagai pecahan kaca. "Jangan sebut namaku. Namaku terlalu suci untuk keluar dari bibir pengkhianat sepertimu." Air mata mengalir di pipinya, bercampur dengan asap dupa, menciptakan aroma pahit yang menyayat hati. Rahasia lama mulai terkuak, seperti borok yang akhirnya pecah. Kebenaran meluncur keluar, menyakitkan dan tak terhindarkan. Chen dulu telah menikahi Meilan karena paksaan keluarga, bukan karena cinta. Ia mencintai wanita lain, wanita yang lebih kaya dan berkuasa. Ia meninggalkan Meilan, menghancurkan hatinya, dan mengubur masa lalu mereka dalam-dalam. Namun, masa lalu selalu kembali, bukan? "Kau pikir aku akan membiarkanmu hidup bahagia, Chen? Setelah kau merenggut segalanya dariku? Setelah kau menginjak-injak hatiku hingga hancur berkeping-keping?" Chen menggeleng, air mata ikut membasahi wajahnya. "Aku menyesal, Meilan. Aku sangat menyesal." "Penyesalanmu tidak berarti apa-apa!" Meilan berteriak. "Penyesalanmu tidak akan mengembalikan apa yang telah hilang! Penyesalanmu… **TERLAMBAT**!" Dengan gerakan secepat kilat, Meilan menikam Chen. Bukan di jantung. Bukan di tenggorokan. Tetapi tepat di tempat di mana cinta mereka dulu tumbuh: di perutnya. Chen jatuh berlutut, memegangi perutnya yang berdarah. Matanya menatap Meilan dengan nanar. "Ini...bukan...dirimu..." Meilan tersenyum. Senyum yang dingin, senyum yang mematikan. "Ini adalah balas dendam. Balasan dari hati yang terlalu lama menunggu. Balasan dari jiwa yang kau hancurkan." Ia mendekat, berjongkok di depan Chen. "Kau tahu, Chen? Yang paling menyakitkan adalah...kau tidak pernah benar-benar mengenalku." Ia mencabut belatinya, membersihkannya dengan salju, lalu berbalik dan pergi, meninggalkan Chen yang sekarat di atas hamparan putih yang ternoda darah. Balas dendam yang tenang, namun mematikan. Balasan dari hati yang terlalu lama menunggu. *Bayanganmu akan menemanimu ke neraka, Chen.*
You Might Also Like: Peluang Bisnis Skincare Peluang Usaha

Post a Comment