Dracin Seru: Senyum Yang Mematikan Dengan Lembut

## Senyum yang Mematikan dengan Lembut Hujan sakura berjatuhan, menari di udara sebelum menyentuh bumi dengan bisikan lirih. Di bawah pohon sakura tertua di istana, berdirilah aku, Xiao Mei, mengenakan hanfu putihku yang ternoda debu pengasingan. Di hadapanku, Kaisar Li Wei, dengan jubah naga emas yang kini tampak begitu asing dan jauh. Wajahnya, yang dulu menerangi hari-hariku, kini dipenuhi kerutan penyesalan. "Mei'er," bisiknya, suaranya parau seperti dedaunan kering yang terinjak. "Maafkan aku." Kata-kata itu… **KATA-KATA ITU!** Mereka bagai pisau berkarat yang menusuk jantungku perlahan. Bertahun-tahun aku merindukan kata-kata itu, namun kini, mereka terasa hambar, tak bernilai. "Maaf?" aku bertanya, suaraku nyaris tak terdengar di tengah gemericik hujan sakura. "Untuk apa, Yang Mulia? Untuk pengkhianatan? Untuk janji-janji yang kau campakkan seperti sampah di jalanan? Atau untuk nyawa *Ibuku* yang kau renggut atas nama kekuasaan?" Ia menunduk. Dulu, ketika ia menunduk padaku, itu karena malu-malu mencuri ciuman. Sekarang, itu karena rasa bersalah yang tak tertahankan. "Aku… aku terpaksa," jawabnya lemah. "Untuk tahta… untuk rakyat…" "Rakyat? Tahta?" Aku tertawa hambar. "Apakah rakyatmu lebih penting dari kebahagiaanku? Apakah tahta itu lebih berharga dari *kepercayaan* yang ku berikan padamu sepenuh hati?" Air mata mulai mengalir di pipiku, bercampur dengan air hujan. Aku mengangkat daguku, menatapnya lurus. "Dulu, aku mencintaimu lebih dari apapun. Aku rela memberikan nyawaku untukmu. Tapi kau, Li Wei… kau merenggut semuanya dariku." Kemudian, aku tersenyum. Sebuah senyum yang pahit, yang tidak mencapai mataku. Senyum yang mematikan dengan lembut. "Tapi jangan khawatir, Yang Mulia," lanjutku. "Aku tidak akan membalas dendam. Karena takdir, seperti sungai yang mengalir tanpa henti, akan menemukan jalannya sendiri. Dan keadilan… keadilan selalu memiliki cara untuk menuntut bayarannya." Beberapa hari kemudian, tersebarlah kabar bahwa Kaisar Li Wei jatuh sakit. Sebuah penyakit aneh yang tak bisa disembuhkan oleh tabib manapun. Penyakit yang membuatnya merindukan seseorang bernama Xiao Mei. Penyakit yang membisikkannya janji-janji yang dilanggarnya di setiap hembusan nafasnya. Penyakit yang perlahan, tapi pasti, merenggut nyawanya. Aku berdiri di kejauhan, menyaksikan iring-iringan jenazah kaisar melewati gerbang istana. Hujan sakura masih berjatuhan, menutupi jalanan dengan karpet merah muda. Aku merasakan kedamaian yang aneh, bercampur dengan sedikit penyesalan. Apakah ini akhir dari cinta dan dendam kita?
You Might Also Like: Happy Juneteenth Celebrating Freedom

Post a Comment